"Jangan-jangan Makmu pembawa gen gila!" ucap seorang tanteku kepada adikku. Mendengar itu dari adikku, aku terdiam sejenak. Aku bingung harus membela dengan cara apa, sebab ada banyak dalil yang bisa kusampaikan untuk menepis ujaran itu. Mungkin ada banyak tingkah polah dan ucap Mak yang tak pantas di mata orang sekitar kami. Sebagai anak, patutnya saya menghaturkan maaf untuk beliau dan diri sendiri. Tapi, untuk sampai dikatakan pembawa gen gila, rasa-rasanya itu berlebihan. Sebab, orang gila mana yang jungkir balik membesarkan enam anak hingga mengantarkan mereka meraih cita-cita? Yang orang tidak tahu, sosok yang disebutnya pembawa gen gila ini gemar sekali membaca Al-Qur'an. Setahun ia bisa beberapa kali menamatkan 30 juz, kadang dari depan ke belakang, kadang dari belakang ke depan. Petang, dini hari, siang hari, sore hari, setiap waktu luang dia membaca Al-Qur'an. Bukan, bukan saat sudah tua sekarang saja. Tapi sedari aku kecil pun sudah begitu. Aku kerap terb...
Hello, welcome back to my blog. It has been so long time no post. My bad. Setelah kosong melompong dan hampir dihuni dedemit, aku memutuskan untuk mengisi lagi blog ini. Bukan tanpa alasan. Sebetulnya aku sudah memiliki akun di media lain untuk menulis yg agak serius dan rencananya blog ini akan ku isi dengan curahan hatiku saja. Aku harus melakukan ini agar kepalaku tidak berisik dan hatiku tidak tercabik oleh kesendirian yang kian menyerang mentalku. Ya, aku adalah manusia ekstrovert yang harus banget mengekspresikan jatah 5000 kata perharinya. Jika tidak, bermacam-macam perasaan buruk menghantuiku, rasa kesepian, rasa diasingkan, rasa tak laku karena belum nikah. Eh. Aku masih ingat saat pertama merasa kesepian. Ketika pindah ke Jatinangor, aku tinggal di sebuah kos yang individualis dan tidak ada teman yang ku kenal di sini. Aku semakin merasa asing lantaran hampir tak ada waktu untuk aku bertemu dengan tetangga kamarku. Pagi hari tentu kami sibuk beraktivitas, mal...