Langsung ke konten utama

Makku Bukan Orang Gila

"Jangan-jangan Makmu pembawa gen gila!" ucap seorang tanteku kepada adikku. Mendengar itu dari adikku, aku terdiam sejenak. Aku bingung harus membela dengan cara apa, sebab ada banyak dalil yang bisa kusampaikan untuk menepis ujaran itu. 

Mungkin ada banyak tingkah polah dan ucap Mak yang tak pantas di mata orang sekitar kami. Sebagai anak, patutnya saya menghaturkan maaf untuk beliau dan diri sendiri. Tapi, untuk sampai dikatakan pembawa gen gila, rasa-rasanya itu berlebihan. Sebab, orang gila mana yang jungkir balik membesarkan enam anak hingga mengantarkan mereka meraih cita-cita? 

Yang orang tidak tahu, sosok yang disebutnya pembawa gen gila ini gemar sekali membaca Al-Qur'an. Setahun ia bisa beberapa kali menamatkan 30 juz, kadang dari depan ke belakang, kadang dari belakang ke depan. Petang, dini hari, siang hari, sore hari, setiap waktu luang dia membaca Al-Qur'an. Bukan, bukan saat sudah tua sekarang saja. Tapi sedari aku kecil pun sudah begitu. Aku kerap terbangun dini hari gara-gara Mak. Kadang ku terbangun saat beliau tahajud, kadang saat membaca Al-Qur'an. Lama-lama, akhirnya aku terbiasa. Bukan ikut sholat, tapi lanjut tidur, maksudnya. 

Orang yang dia sebut gila ini rutin mengajar anaknya mengaji. Ada anaknya yang pintar dan ada juga yang bebal. Kalaupun susah betul, bagi Mak tak apa hanya mengulang-ulang 3 Qul. 

Mak semangat sekali tiap anaknya mendapat buku pelajaran baru. Belum sempat buku-buku itu disampul, Mak sudah melahap setengahnya. Kadang pula Mak menceritakan kesannya tentang materi-materi tertentu . Sebetulnya kami sudah lama menduga Mak itu suka buku. Sebab, ketika ayah mertuanya (kakek kami) meninggal, ia hanya terpikir untuk mengambil buku catatan. Mak senang sekali mendapati isinya doa-doa dan beberapa pelajaran agama yang kakek tulis dengan sangat rapi. Mak masih menyimpan catatan usang itu sampai hari ini. 

Aku merasa sangat beruntung banyak diajarkan oleh Mak. Mak mengajarkanku membaca sampai bisa lancar di usia lima tahun. Mak juga yang mengajarkan aku berfikir mendalam memaknai suatu peristiwa, "mungkin Allah ingin kita..." Bahkan, Mak lah yang mengenalkanku pada luasnya dunia dari sebuah atlas bekas yang dipungutnya dari sampah di rumah orang. Sampai-sampai guruku heran, bagaimana aku bisa menghafal nama-nama pulau di Indonesia padahal belum pernah diajarkan. Makku, Mak-lah yang mengajarkan. 

Ketika menuliskan ini, aku pun sudah menjadi seorang Emak. Aku tidak tahu, apakah aku bisa sebaik Makku? Yang pasti bagiku, Makku tidak gila!





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membasuh Luka Pengasuhan

Setiap orang menyimpan rekaman kejadian masa kecilnya yang disebut innerchild. Innerchild yang positif akan memberi pengaruh baik dalam perkembangan seseorang, yang perlu diperhatikan betul adalah innerchild negatif dalam hal ini disebut dengan luka pengasuhan. Luka pengasuhan meliputi tujuh tema, yaitu unwanted child , bullying, sibling rivalry, helicopter parenting, parent ways, broken home, dan rumah mewah. Penjelasan lebih lanjut tentang tujuh tema ini saya dapatkan dari webinar “Membasuh Luka Pengasuhan” yang disampaikan oleh Ibu @diahmahmoed77.   Saya mengikuti dua kali webinar bersama beliau dengan judul yang sama. Pertama adalah webinar yang diadakan oleh @mommischology (sebuah platform di Instagram) dan oleh Dandiah Care Center. Di webinar pertama saya dikenalkan dengan luka pengasuhan. Di webinar kedua dilengkapi dengan kisah tiga pejuang membasuh luka pengasuhan. Pejuang pertama mengalami kasus helicopter parenting , di mana semua keputusan terkait hidupnya a...

Mukmin, Berbahagialah!

BAHAGIANYA MUKMIN DENGAN SABAR DAN SYUKUR Oleh: Afif Yati Sering sekali saya mendengar dan membaca ungkapan bahwa hidup di dunia tak lain hanyalah penjara. Faktanya, Adam dan Hawa diturunkan ke bumi akibat dosanya ketika di surga. Maka hidup dunia ini adalah hukuman atas dosa tersebut. Bagi seorang mukmin, dunia ini adalah persinggahan untuk menuju kehidupan hakiki di akhirat kelak. Di dunia ini, seorang mukmin dibekali hak dan kewajiban serta diberi ujian dan cobaan sebagai pengukur keimanannya. Ukuran keimanan, pelaksanaan hak dan kewajiban, serta ujian dan cobaan yang dilalui akan menentukan tempat yang sesuai baginya di akhirat kelak. Allah telah menjanjikan bahwa pada seorang muslim akan selalu ditimpakan ujian dan cobaan untuk membuktikan, mengukur, dan meningkatkan keimanannya. Ujian dan cobaan yang dimaksud tidak hanya kesulitan, ancaman, ketakutan, rasa lapar, dan lain sebagainya, melainkan juga kenikmatan dan kebahagiaan Salah satunya dalam ayat berikut: “ Apakah ...